Minggu tenang UAS semester 7 benar-benar mengesankan! Apalagi bisa nonton bareng keluarga di bioskop. Langka ini beuh! . Domisili kuliah saya di Malang dan keberadaan keluarga di Jakarta membuat hal-hal sederhana seperti ini menjadi berharga.
Mulai akhir tahun 2013-awal tahun 2014 film-film Indonesia sedang berjaya di bioskop negaranya. Ini benar-benar membanggakan mengingat film-film yang sedang tenar pun bukan film "abal-abal" yang tidak tahu pesan apa yang mau disampaikan kepada pemirsanya. Sesuai dengan berita yang dilansir oleh beritasatu.com "Menonton film bisa mempengaruhi pola pikir. Karena itu, sistem pendidikan Indonesia ada baiknya bila menggunakan film sebagai sarana pengajar untuk anak-anak. Guru-guru di sekolah mungkin bisa menggunakan film sebagai sarana mendidik di kelas. Anak-anak bisa diajak ke bioskop beramai-ramai, atau bahkan film bisa diputar di dalam kelas menggunakan proyektor dan layar video." Begitulah pernyataan dari senior perfilm-an yang sangat saya kagumi dengan aktingnya yang mampu membuat penonton memahami dan menangkap emosi adegan dalam film oleh karakter yang dibawakannya, Deddy Mizwar. Sedikit cerita, sejak saya kelas 3 SD, aktor pertama yang saya kagumi adalah beliau :D. Beruntungnya saat acara sahur di suatu stasiun televisi yaitu TVRI, saya yang masih kelas 3 SD itu sempat berpapasan dengan aktor favorit saya. Akhirnya saya tidak menyesal bangun begitu pagi untuk mengikuti kegiatan talkshow halal bersama Bunda hehehe. FYI, sejak tanggal 13/06/13, beliau resmi menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2013-2018. Wah, Selamat ya Pak Naga Bonar!
Nah, melanjutkan pernyataan diatas, bila pola pikir mampu dipengaruhi oleh film, opsi terbaik adalah menyaksikan film yang berkualitas bukan? Film yang mampu menginspirasi hidup dan memberi kita keberanian untuk merealisasikan mimpi-mimpi luar biasa yang bermanfaat setidaknya bagi orang-orang disekitar kita. Yaaaa apa saja jenis filmnya, itu sih perspektif dari tiap-tiap orang. Kalau saya lebih suka yang ada unsur-unsur MIMPI BESAR dan KELUARGA *kadang ACTION FANTASY juga saya ikuti biasanya based on novel yang telah saya baca*.
Saatnya review film Edensor yang saya saksikan tanggal 29/12/13 pukul 13.00 WIB. Keterangan seat saya dan nomor theater bisa dilihat pada gambar dibawah ini *hahahaha
Edensor is film based on Andrea Hirata's novel "Edensor". Pemain utamanya sudah pasti kalian kenal, Ikal, ketika dewasa tokoh utama yang sangat merindukan Aling ini diperankan oleh Lukman Sardi. Terkadang Zulfanny, Ikal kecil dan remaja, muncul dalam film sekuel ini. Adapula adegan ketika Ikal remaja bertemu dengan Lintang saat akan melaut. Berhubung gambar Ikal dan Lintang versi remaja di film Edensor sulit didapat, saya berikan gambar pada adegan tak terlupakan di film Laskar Pelangi paling pertama.
Sedikit bernostalgia dengan Lintang kecil (kiri), Ikal kecil (tengah), dan Mahar (kanan).
picture source: detikhot
*mulai dari sini bahasanya bakalan tidak begitu formal ya* *bow*
Film Edensor dimulai dengan kondisi Ikal dan Arai yang terlantar baru diusir karena surat-surat keterangan tentang meraka tidak lengkap. Padahal Arai udah mohon-mohon sampai hampir nyogok yang punya "kos-kosan" tapi ditolak mentah-mentah sama dia, malah tambah kena marah. Intinya dibilangin kalo sistem di Eropa beda sama negaranya Ikal yang mau aja terima uang sogokan *malu deh, negara Ikal kan negata saya juga tuh. Wish: Semoga para calon penerima sogokan dan yang mau nyogok biar sadar noton Edensor* Akhirnya dicuaca yang dinginnya bisa kurang dari 0 derajat celcius Ikal yang sempat tidak sadarkan diri berlindung dengan daun-daun kering buat menghangatkan badan *idenya Arai nih*. Oh iya, Edensor ini menceritakan petualangan Ikal dan Arai berbekal beasiswa akademik di Sorbone, Paris.
Bicara tentang Arai, dia adalah sepupu dari Ikal yang sudah dianggap seperti keluarga kandung oleh keluarga Ikal. Abimana Aryasatya adalah pemeran Arai yang saya akui aktingnya sangat bagus! Super lah pokoknya! Arai selalu menjadi pelindung dan pengingat bagi Ikal. Hal ini karena janji Arai kepada Ikal untuk membantu penuhi mimpi-mimpi gila milik Ikal. Setidaknya ada beberapa penyakit gila yang mereka sebut dalam film ini apalagi ketika nama Zakiah Nurmala disebut oleh Arai. Penasaran? buka ini untuk definisi penyakit-penyakit gila milik Ikal: http://shabrinasafiraf.wordpress.com/2012/02/24/44-macam-penyakit-gila-versi-andrea-hirata/
Hidup Ikal di Paris penuh dengan kegalauan, di satu sisi dia mencari Aling, di sisi lain dia menerima ajakan berkencan dengan seorang wanita yang kulturnya benar-benar berbeda dengannya. Banyak adegan lucu yang terjadi karena perbedaan makna 'cinta' diantara dua insan ini. Akibatnya, Ikal mulai suram dengan nilai-nilai kuliah. Arai bagaikan guardian angel menegur sahabatnya dan menyatakan kekecewaan besar terhadap Ikal yang mulai lupa dengan tujuan utamanya di Paris. Klimaksnya, mereka bertengkar karena Ikal sungguh, sangat, luar biasa tidak tahu diri, malah balik memarahi Arai dengan megatakan bahwa Arai terlalu mencampuri urusannya dan Ikal selalu merasa sebagai pihak lemah sedangkan Arai selalu menjadi yang paling kuat. Kalau tidak salah kata-kata Ikal yang masih membekas, "Kau siapa? Kau juga bukan ayahku. Untuk apa aku menuruti kata-katamu!" Semenjak itu, Arai tidak pernah menegur Ikal dan Ikal mulai merasakan bahwa ia ternyata memang membutuhkan keberadaan Arai.
Kegalauan Ikal bertambah setelah kabar dari Ayahnya tentang usaha tambang sudah bangkrut dan mata pencaharian semakin sulit di Belitong. Saat itu pula Ikal memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan wanita bule kembali menjadi pertemanan dan kembali fokus mengejar impiannya. Arai dan Ikal akhirnya berbaikan dan kembali bersama-sama menjalani petualangan mereka di Eropa demi meraih mimpi-mimpi yang mereka gantungkan setinggi-tingginya, "Setinggi-tingginya hingga Tuhan memeluk mimpi kita."
Setelah mereka lulus dalam masa studinya, inilah adegan yang masih membekas, ketika Arai membacakan puisi untuk Zakiah Nurmala idamannya di depan pusara idola Arai, Jim Morisson.
puisi untuk satu-satunya cinta dalam hidupku
Zakiah Nurmala
disini, disaksikan pusara jim morisson, ku katakan padamu
rampas jiwaku
curi masa depanku
jarah harga diriku
rampok semua miliku
sita
sita semuanya
mengapa kau masih tak mau mencintaiku?
Hingga akhir cerita, cinta belum mempertemukan Ikal dengan Aling. Padahal jarak dan waktu mereka selalu hampir bertemu, karena belum takdirnya, yaaa mau gimana lagi. Aling pergi mengelilingi Eropa dan dengan mimpi yang sama, Ikal pun mulai mengelilingi Eropa dengan harapan dapat bertemu dengan gadis berjari cantik, cinta monyetnya.
Review film ini berdasarkan adegan-adegan yang masih melekat dalam ingatan saya sepanjang film yang berdurasi sekitar 2 jam lebih. Selain itu, berdasarkan pandangan saya yang belum membaca novel Edensor, film ini sangat mempermainkan emosi penonton. Semua perasaan disampaikan dengan baik oleh tiap karakter dalam film *bahkan aktor favorit saya jadi tambah lagi, Abimana.*
Recommended untuk ditonton deh!

